Rapor Buruk Pelatih dan Manajer Timnas*

*Artikel ini dimuat di Rubrik Oposan, Tabloid BOLA edisi 15-17 Agustus 2011

Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan sosok seorang pemimpin. Sangat kecil kemungkinan bagi kita untuk menemukan sosok pemimpin yang sempurna untuk memimpin sebuah organisasi dengan pemasalahan yng cukup kompleks seperti PSSI. Rezim Nurdin Halid adalah contoh pemimpin yang mungkin sangat jauh dari sempurna. Pengaturan pertandingan, mafia wasit, dan ketergantungan klub profesional terhadap anggaran negara adalah warisan warisan permasalahan yang ditinggalkan oleh pengurus PSSI sebelumnya. Tapi apakah Nurdin dkk tidak mempunyai jasa?

Rasanya tidak fair jika kita mengatakan tidak sama sekali. Secara besar hati kita harus mengakui bahwa Pengiriman bibit bibit muda yang berlatih dalam naungan SAD Uruguay dan gemerlapnya kompetisi ISL yang menarik animo masyarakat yang cukup besar adalah bentuk usaha rezim Nurdin dalam memajukan sepakbola Nasional beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi, sangat disayangkan, daripada fokus untuk membenahi program-program positif kepengurusan sebelumnya, Rezim baru dibawah Djohar Arifin Husin  seperti membabi buta untuk memberangus seluruh kinerja pengurusan sebelumnya, dan bahkan malah menimbulkan banyak permasalahan baru.

Keinginan untuk merombak format kompetisi untuk mengakomodasi klub LPI kedalam ISL, regulasi salary cap, sampai kewajiban klub profesional untuk memberikan setoran deposit 5 Milyar rupiah. Tapi bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini, saya akan lebih khusus membahas Blunder rezim PSSI baru dalam mengelola timnas Pra Piala Dunia.

Pemecatan Alfred Riedl dan asisten Wolfgang Pikal dengan pelatih PSM yang bekerja di LPI, Wim Rijsbergen  saat pertandingan kurang beberapa hari adalah keputusan yang efeknya akan terus menghantui kita. Saya tidak meragukan kualitas Wim, tapi saya mengkhawatirkan pengetahuan Wim dalam meramu pemain pemain timnas yang sebagian besar berasal dari ISL. Untung saja, PSSI membuat keputusan tepat saat menunjuk Rahmad Darmawan (RD) sebagai asisten pelatih.

Saat pertandingan melawan Turkmenistan di GBK 28 Juli lalu, melihat formasi pemain yang diturunkan, saya meyakini bahwa susunan starting eleven timnas yang turun dengan formasi 4-4-2 adalah hasil rekomendasi RD. Akan tetapi saat Indonesia unggul 4-1 dan Turkmenistan bermain sepuluh orang, mulailah terlihat kinerja Wim Rijsbergen yang sebenarnya. Melakukan pergantian pemain untuk berexperimen mencoba formasi 4-3-3 ala Belanda dengan memasukkan Okto Maniani menggantikan M. Ilham.  Mungkin RD hanya bisa menggerutu dalam hati tanpa dapat berbuat banyak terhadap pergantian aneh yang dilakukan Wim. Hasilnya? 2 gol Turkmenistan bersarang ke gawang Ferry Rotinsulu.  Tapi  sekali lagi kita cukup beruntung karena score 4-3 masih membuat kita lolos ke babak ke-IV penyisihan Zona Asia. Saat konferensi pers, Wim Rijsbergen menyalahkan stamina dan konsentrasi pemain pemain timnas sebagai biang keladi kebobolan 2 gol dimenit akhir. Orang awam akan meng-iyakan perkataan Wim, tapi jika pelatih-pelatih kaliber dunia seperti Pep Guardiola, Mourinho atau Max Allegri menonton pertandingan timnas, mungkin dalam hati mereka akan mengatakan hal itu karena wrong subsitutions atau bad tactical decisions dari pelatih Wim. Oleh karena itu, Bagi saya pemberhentian RD dari timnas senior untuk fokus pada timnas U-23 akan banyak mempengaruhi performa timnas di Pra-Piala Dunia.

Kebijakan lain yang aneh dari Djohar Administration adalah menunjuk orang yang kurang berpengalaman untuk menjadi manajer timnas. CEO Persibo Bojonegoro, Ferry Kodrati mungkin adalah nama yang sangat asing di telinga penggemar sepakbola Nasional. Kinerjanya pun langsung terlihat. Bagaimana sebagian pemain tidak mendapat Visa saat akan bertolak ke Turkmenistan pad leg I dan tidak adanya protes resmi sebelum pertandingan atas buruknya Stadion Olimpiade Ashgabat. Beruntung kita masih bisa meraih hasil positif 1-1 di kandang lawan.  Setelah dipastikan lolos dari babak III, kinerja buruk sang manajer timnas masih juga cukup terlihat. Bagaimana mungkin lampu stadion tidak dicek terlebih dahulu sebelum menentukan lokasi latihan Laskar Merah Putih. Pencahayaan stadion Cilegon yang tidak memadaipun mengacaukan latihan malam hari yang direncakan Wim saat memasuki bulan Ramadhan.

Sebagai pecinta sepakbola nasional, saya hanya berharap PSSI harus berbesar hati dan menghilangkan aroma dendam terhadap Rezim PSSI sebelumnya. Semoga Djohar Arifin Cs lebih arif dalam menentukan kebijakan-kebijakan selanjutnya. Majulah Timnas! Salam Olahraga!

Advertisements

About abdilsani
A freelance football writer and an environmental engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: